Minggu, 23 Agustus 2015

Suara-Suara Keramat

Sejak pindah ke perumahan "Pesona Lembah Hijau", Anggoro merasa lega. Setelah sekian tahun tinggal nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan lain, akhirnya dia menemukan juga rumah 'idaman', meski agak jauh di pinggir kota.

Anggoro merasa tak salah pilih. Ia merasa perumahan itu aman dan nyaman. Akses ke kota lancar, bangunannya kokoh dan yang penting lokasinya jauh dari banjir. Airnya juga bening dan udaranya masih sejuk. Anggoro merasa beruntung mengambil rumah di sana, tetangganya baik-baik dan anak isterinya betah sekali di rumah barunya.

Tapi satu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, pada Ramadhan pertamanya di perumahan itu Anggoro mendapatkan teror yang setiap malam mengusik pendengarannya. Ada suara-suara keramat yang menggema di menara-menara masjid kampung - penduduk asli - yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.

Anggoro Resah, gelisah, dan akhirnya bangun dan keluar untuk membuang kesalnya. Di sebuah masjid ia dapatkan seorang tua berkhidmat melantunkan firman. Tekun dan sungguh-sungguh. Alquran terkembang di depannya. Mikrofon tergenggam di tangannya. Khusyu' dengan irama usang yang terbata-bata. Irama yang sumbang dan pecah di gendang telinga. Mungkin karena ia mengangkat mikrofon terlalu dekat ke bibirnya. Atau juga karena suara tuanya yang sudah tak nyaman lagi untuk didengar.

Sudah lima hari ini suara tua itu mengisi malam. Bersileweran dengan suara-suara keramat lainnya yang menggema di puncak-puncak menara. Suara-suara yang mengganggu pendengaran. Merusak keheningan. Membuat mata tak terpicing. Anggoro tak tahu berapa banyak orang yang terganggu oleh suara-suara itu.

Atau mungkin hanya dia sendiri? Atau semua orang terganggu, tapi tak berani mengungkapkannya? Entahlah. Pada hari kelima ini Anggoro sudah tak tahan. Ia kumpulkan semua keberanian yang ia miliki. Juga semua alasan yang ia punya. Untuk kemudian mendatangi orang tua itu. Memberitahukan bahwa suara tuanya sudah mengganggu istirahat orang.

Dengan membawa kesal dan kantuk Anggoro mendatangi masjid tempat orang tua itu berkhidmat. Berwudhu kemudian shalat dua rakaat. Setelah itu duduk sejenak. Menarik nafas, menata emosi, menekan amarah, lantas menghadap ke orang tua yang usianya hampir tujuh puluh tahun itu. Anggoro mencoba mencari sela untuk menyampaikan keluhannya. Namun orang tua itu seakan-akan tak terusik.

Ia terus saja melantunkan firman dengan suaranya yang sumbang. Tak jelas entah surat apa dan ayat berapa yang ia baca. Bunyi yang keluar dari mulutnya hampir sama. Bunyi sengau yang dibawa ke hidung. Saat membalik halaman, orang tua itu melirik pada Anggoro. "Alhamdulillah, sudah sepuluh juz." Katanya berbagi kebahagiaan. Anggoro hanya tersenyum, mencoba merasakan kebahagiaan orang tua itu.

Namun sebelum ia membuka kata, orang tua itu sudah bertekun kembali dengan bacaannya, mengangkat mikrofon dan mendengungkan suara yang aneh dari makhraj yang tidak jelas. Anggoro mengamati orang tua itu. Lamat-lamat. Mencoba menyelami pendalaman hati seorang tua yang sudah di ambang tujuh puluhan. Apa yang ia rasakan? Apa yang ia pikirkan? Seolah-olah ia sedang memburu waktu.

Mengejar ketertinggalan dari masa muda yang telah berlalu. Bertekun dalam kekhawatiran. Seperti takkan ada lagi esok, dan seakan-akan Alquran hendak ditamatkannya dalam satu malam. Hingga orang tua itu membalikkan halaman berikutnya, Anggoro tak juga bicara. Lidahnya terasa kelu dan mulutnya seperti terkunci.

"Untuk tabungan akhirat, nak. Mumpung bulan baik. Setiap huruf yang kita baca dari Alquran ini akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah." Kembali Anggoro tersenyum, dan ia membiarkan orang tua itu meneruskan qira'ahnya. Hingga halaman berikutnya. Hingga berikutnya. Tak juga ia menemukan sela. Padahal sekian kata-kata sudah tersusun di pikirannya. Namun tak satupun yang terucap. Jangankan untuk menyampaikan keluhan, menyampaikan satu kata saja ia tak mampu.

Menyampaikan kalau ia terganggu. Hak istirahatnya terganggu. Bukankah tubuh ini juga ada haknya? Akh, orang tua ini. Kenapa ia terlalu egois, mengejar pahala untuk diri sendiri tanpa pedulikan orang lain? Lagi pula yang membuat Anggoro tak habis pikir, kenapa harus pakai mikrofon? Membaca Alquran tengah malam begini, saat orang lagi istirahat, bukankah lebih baik pelan-pelan saja?

Apakah dengan mikrofon pahala membaca Alqurannya lebih banyak? Akh, bahkan Anggoro ingin menyampaikan pada orang tua itu bahwa ia tidak akan mendapat pahala apapun dengan membaca Al-Quran keras-keras seperti itu. Malah dosa yang mungkin ia dapatkan. Karena ia sudah mengganggu istirahat orang. Puluhan atau mungkin ratusan orang pasti memakinya. Mengumpatinya sepanjang malam.

Kalau yang terakhir ini ia sampaikan, Anggoro mengira-ngira orang tua itu pasti tersinggung, dan dia akan membalas dengan alasan begini. "Kalau ada orang yang terganggu dengan bacaan Alquran, berarti dia bukan orang yang beriman. Karena orang yang beriman itu akan bergetar hatinya saat mendengar ayat-ayat Allah. Kapanpun dan di manapun."

Nah, kalau demikian berarti tak ada pilihan baginya selain mendengarkan suara berkarat orang tua itu. Meski ia letih, capek, dan besok paginya harus kerja lagi? Akh, betapa tersiksanya aku, bisik Anggoro dalam hati. Namun dialog-dialog itu hanya terjadi dalam pikirannya. Tak pernah menjadi nyata. Buktinya Anggoro hanya diam, mengamati kesungguhan dan keikhlasan orang tua itu membaca ayat demi ayat dari kitab suci.

"Yang mendengarpun ada pahalanya dari Allah." Kata orang tua itu sambil membalik halaman berikutnya. Seperti biasa, Anggoro hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ia mulai merasa tak kuasa untuk menyampaikan keluhannya. Suara-suara malam itu terlalu keramat untuk dihentikan. Keikhlasan orang tua itu membuatnya tak tega. Rasanya lebih baik ia mengalah dan pulang saja. "Mau pulang?" tanya orang tua itu saat melihat Anggoro membuka sila. Anggoro hanya mengangguk, mengucapkan salam, kemudian menjabat tangan orang tua itu.

"Silakan! Silakan!, tampaknya anak lelah sekali. Istirahatlah dulu. Tidur sejenak. Nanti bangun sahur bisa segar." Katanya dengan senyum. "Justru karena tidak bisa tidur saya ke sini, bapak! Suara bapak di mikrofon itu telah merenggut hak tidur saya. Apa bapak tidak sadar, ha!" gerutu Anggoro dalam hati.

***

Di masjid sebelah utara, suara sekelompok anak muda tak kalah berisiknya. Menggilir mikrofon dari mulut ke mulut. Jam satu malam mereka sudah meneriakkan, "Sahuuur! Sahuur!" mengimbau ibu-ibu untuk bangun dan memasak. Jam satu malam. Bayangkan! Bukan hanya itu. Lewat mikrofon masjid itu mereka juga berpuisi, bersajak, menyampaikan salam dari seorang pada yang lain.

Dari Wanto pada Laksmi, dari Salim pada Heni, dari Wawan pada Ida. Mereka berlaku seperti penyiar radio, membacakan surat cinta, membuat janji, dan menyampaikan kata selamat bobok. Semua itu disuarakan di mikrofon masjid. Mengaung di puncak menara. Akh, sialan. Bagi Anggoro ini jauh lebih mengesalkan dari suara berkarat orang tua tadi. Namun sebagaimana yang terjadi pada orang tua itu, ia juga tak berdaya.

Saat ia datang, di teras masjid sudah menyambut beberapa anak muda dengan keramahan seorang saudara. "Sini Om! Gabung Om! Ngopi-ngopi dulu Om! Nih, ada yang anget-anget Om!" semua mereka menyapa. "Beginilah kita Om. Tiap malam begadang, ngumpul-ngumpul, bangunin orang sahur, kadang-kadang keliling juga. Yaa, daripada ngumpul-ngumpul nggak bener Om, mabuk, nyabu, nyimeng, mendingan di masjid lah Om.

Mumpung Ramadhan, kan ada juga amalnya bagi kita-kita Om, iya nggak Om?" "Sialan kalian! Kalian pikir kelakuan kalian ini baik? Aku tak bisa tidur karena suara-suara kalian itu, tau!" gerutu Anggoro tak pernah terucap. Kemudian setelah menyeruput habis kopi yang disuguhkan anak-anak muda itu, Anggoro pamit. "Pulang Om?" "Ya." "Kok buru-buru Om? Nyantai dulu Om!" "Nggak ah, ngantuk. Besok kerja. Makasih kopinya ya." "Ya Om, hati-hati Om!"

***

Lain lagi di masjid sebelah Selatan, suara cempreng seorang tua tak henti-hentinya meneror telinga. Menyanyi tak putus-putus sejak malam hingga sahur. Kadang ia bershalawat, kadang lagu: Ya thaiybah..., ya thaiybah....! Kadang ia bernyanyi lagu apa saja dengan irama suka-suka. Seperti artis kehilangan panggung. Akh, sungguh tak tahu diri. Masjid ia jadikan ajang penyaluran bakat.

***

Anggoro melewati malam-malam menyiksa itu dengan mata terjaga. Tubuh lelah. Pikiran gundah. Sementara suara-suara keramat terus meraung-raung meneror gendang telinga. Ia pasrah. Sudah mencoba tapi tak berdaya. Mungkin sudah begini keadaannya. Di sini, kebiasaan mungkin lebih diterima daripada kebaikan.

Mungkin semua terganggu tidurnya, terganggu qiyamul lailnya, terganggu zikirnya. Tapi semua mencoba menerima suara-suara keramat yang terus menggema. Hanya sekali setahun. Tak apalah. Meski malam terasa lama. Tapi akhirnya berlalu juga. Entah kenapa saat menyadari Ramadhan sebentar lagi akan pergi, diam-diam dalam hatinya Anggoro merasa gembira...?

Depok, Syakban 1428 H.
Taufiq Sutan Makmur / Taufiqqurahman
Lahir di Padang, 28 Februari 1975. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di berbagai media massa. Tinggal di Ciracas Jakarta Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...