Kamis, 17 September 2015

Catatan Harian Seorang Ayah

Prof. Dr. Zaki Najib Mahmud, Guru Besar Universitas Kairo dan seorang intelektual Mesir kenamaan, dalam bukunya Qiyam min Al-Turats menceritakan bahwa ia menemukan - dalam suatu tumpukan buku yang pernah diserahkan kepadanya - sebuah "Catatan Harian" seorang ayah yang sedang mengalami krisis. Sang ayah mempunyai seorang anak yang bernama Ismail. Dia sungguh-sungguh mendambakan sukses anaknya, dan pada saat yang sama dia juga mengharapkan agar anaknya tetap memelihara etika, norma-norma agama, dan susila. Sukses mencapai kedudukan terpandang, menurut pengamatan sang ayah, seringkali melalui pengabaian norma-norma tersebut. Dari sinilah pangkal krisisnya.

Saya tidak berani menyampaikan hal ini kepada anakku, saya bimbang apakah saya akan mengajarkan, misalnya, norma tawadhu' (rendah hati) kepadanya, sedangkan saya tahu bahwa norma ini seringkali menghalangi pencapaian kedudukan terpandang, yang oleh masyarakat diidentikkan dengan kekuasaan atau kepemimpinan. Salah satu syarat untuk mencapai sukses tersebut adalah "kemampuan berkurang ajar". ,Jangan tertawa membaca ini.

Demikian tulis sang ayah yang mengharap pada awal catatan hariannya agar apa yang ditulisnya ini tidak dipublikasikan kecuali setelah wafatnya.

Kekurangajaran yang saya maksud sungguh-sungguh dalammakna yang  sebenarnya. Memang ada saja yang kurang ajar, tetapi ia keliru menempatkan kekurangajaran itu sehingga ia tergelincir. Tetapi, ada yang tahu tempatnya, yaitu ia mampu mengatur siasat dan memiliki kemampuan berkurang ajar. Inilah tangga yang mengantarnya "ke atas"

Ayah yang menulis "Catatan Harian" ini, tampaknya, berwawasan cukup luas. Terbukti, antara lain, ketika ia membandingkan gejolak jiwanya itu dengan diskusi yang terjadi antara Plato dan teman-temannya tentang arti "keadilan" dan yang dituangkan oleh filosof
tersebut dalam buku Republic-nya.

"Apakah keadilan itu?" tanyanya.
"Kebenaran ucapan," ujar seseorang.
"Pemberian bantuan kepada teman dan bencana kepada
musuh, "sanggah lainnya.
"Keadilan adalah yang memenangkan si kuat," kata yang lainnya lagi.
"Tidak!"kata Plato, "Keadilan adalah menempatkan sesuatu atau seseorang pada tempat yang sesuai."

Sang ayah melanjutkan catatan hariannya seakan-akan ia berhadapan dengan putranya.

Jadilah, wahai Ismail, seorang yang kuat, niscaya engkau akan dinilai adil dalam perbuatan dan ucapanmu. Engkau akan dianggap pakar meskipun tanpa ilmu, sastrawan meskipun tanpa pena Tetapi... (nampaknya pada saat itu gejolak jiwanya muncul lagi), tetapi... Tidak! Seribu kali tidak. Mereka yang demikian itu halnya akan dicari oleh generasi berikut tapi tidak ditemukan, bahkan mereka tidak akan disebut-sebut sama sekali.

Bekerjalah, wahai anakku, sekuat kemampuanmu. Pilihlah untuk dirimu sendiri suatu misi yang harus engkau emban, karena kalau tidak, hidupmu akan sia-sia. Memang, mungkin perjalanan yang engkau tempuh begitu panjang dan hasil yang kudambakan untukmu belum juga engkau raih. Tetapi yakinlah bahwa dengan seizin Tuhan, suatu ketika engkau akan memetik buah. Pahamilah keadilan sebagaimana dipahami oleh Plato. Sesurrgguhnya Tuhan tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan orang-orang yang berbuat kebajikan.

Apa yang ditulis oleh sang ayah dalam catatan hariannya ini mungkin dapat dialami oleh setiap ayah kapan dan di mana pun. Semoga ia mampu melihat dari alam kubur, bahwa putranya Ismail telah mencapai sukses dengan cara yang diajarkannya ini, karena cara yang demikianlah yang menjadikan seseorang dapat hidup abadi di dunia ini dan bahagia di akhirat kelak.[]

M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, halaman 255-257

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...